Hana tidak bisa mencium bau sinar matahari yang membakar kulit, hari ini tidak seperti biasanya tidak ada aktifitas yang bisa mengisi perjalanan ini. Hana bermimpi tentang semua aktifitas hana dulu, dalam mimpi itu hana berjalan diantara bangunan-bangunan berbentuk kubus dengan satu pintu yang terbuat dari kaca, bangunan itu banyak, dindingnya berwarna abu dan bercahaya, terlihat indah.
Dalam mimpi itu hana harus menentukan pilihan, karena rasa penasarn akan isi dalam bangunan itu. suasananya sepi tidak terdengar apa-apa di sekitar bangunan itu, perasaan hana terus bertanya-tanya, ada sesuatu yang harus hana lihat di balik pintu kaca itu. Lalu hana mendekati pintu itu, terasa hangat. ternyata pintu itu bukan terbuat dari kaca, tapi seperti gumpalan asap yang membentuk sebuah pintu, hana makin mendekati gumpalan asap itu, lama-lama memudar lalu masuk ke dalam ruangan itu yang tanpa sadar hana juga ikut masuk ke dalam ruangan itu. Ini mimpi? atau skedar imaginasi saja, hana melihat persimpangan jalan, diantara dua arah jalan itu hana melihat sosok seseorang sedang berdiri seperti menunggu sesuatu atau sedang melihat ke arah hana, tapi sedikit samar. Matanya kosong, tanpa mimik apapun di wajahnya.
Hana takut, takut mengenal sosok itu. sejenak ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak bisa sama sekali, mendadak bisu memperhatikan sosok itu, hawa hangat tadipun berubah jadi dingin yang teramat sangat. hana tidak mengerti kenapa selalu ada dua pilihan diantara ribuan harapan, yang pada saat itu harus hana pilih salah satunya seperti dalam mimpi itu hana harus mendekati sosok itu atau berbalik arah meninggalkan ruangan itu, Sosok laki-laki itu samar terlihat dari kejauhan membawa tas kecil berwarna cokelat, hana masih diam diantara persimpangan jalan itu, lalu hawa hangat itu mulai terasa lagi memberi kekuatan untuk berjalan mendekati sosok laki-laki itu, mendeka dan menyapanya.
sedikit senyum walaupun rancu, dia tidak menjawab hanya menunduk dan menggerakan kedua kakinya, bergeser ke kiri, kekanan, entahlah! dia sedang apa. hana tidak terlalu memperhatikannya. Astaga! dia memakai sandal karet berwarna ungu seperti yang sering hana pakai dulu, hana terharu dan kembali bisu tidak bisa berkata-kata lagi, ini hanya mimpi! mungkin ini mimpi? setelah hana perhatikan sosok itu, ternyata itu kamu darma. Aku tidak menyangka kalu ini nyata, bukan mimpi! ruangan ini memabawaku ke alam nyata di bawah alam sadar, lalu aku mulai bisa berkata-kata "darma" dengan penuh harap, dua kali aku memanggilmu "darma" tapi kamu cuma tersenyum sambil melepaskan sandal itu dan menaruh tas kecil itu di depanku. aneh! padahal aku tidak menyuruhmu seperti itu, 'dengan monolog kata' kamu menunjuk ke arah kanan di persimpangan jalan itu, lalu tersenyum.
sudah kedua kalinya aku tidak memperhatikan isyarat-isyarat itu, karena perasaan hana tertuju pada wajah kamu "darma" yang kadang samar kadang aku tidak mengenali raut wajah itu, Tuhan hana berharap ini benar-benar nyata, lalu perhatianku kembali tertuju pada sandal dan tas kecil yang kamu bawa, rasa kaget, haru tadi pun belum reda. Tiba-tiba sosok itu hilang, Darma?! , selalu seperti ini, mimpi memang tidak bisa di prediksi, tidak bisa dikendalikan tanpa menguasai alam bawah sadar.
Dalam tas kecil yang kamu tinggalkan, ada sebuah surat dan satu botol parfum. surat itu ..
" Aku ingat ketika sandal ini ditinggal pergi oleh pemiliknya
parfum ini mengering dan habis, ketika pemiliknya pergi
tapi wangi parfum ini selalu tercium, walaupun habis
mungkin sandal ini sudah tidak muat lagi kamu pakai
tapi aku selalu menaruhnya di depan pintu rumah
seolah-olah ada kamu "Hana"
dan aku berharap hari ini kita bisa bertemu
pada saat kenangan ini aku ingat"
Darma, aku tidak percaya hal ini terjadi, akutulis surat dan tidak mungkin untuk terbalas. Perasan itu selalu aku rasakan setiap aku tulis surat buatmu, dan Hana selalu berharap menerima balasannya, yang kini satu harapan itu terwujud walau dalam mimpi.
Terimakasih Tuhan...
Hana tulis surat lagi nanti, sampai ketemu......
Hana
7 Feb 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar