Kamis, 01 September 2011

Tumbuh.Distorsi

Penulisan kalimat-kalimat dan kata-kata yang tidak bisa dimengerti, pengungkapan jati diri dari sosok diri ke dua, dari diri yang sesungguhnya dan mungkin itu sering dialami setiap orang, terutama bagi penderita schizophrenia dengan berbagai tingkatannya. Saya rasa ini hanya pengungkapan di saat pikiran ini terjebak oleh alcohol dan beban moral, yang selama ini jadi polemik kehidupan yang tidak normal, masih banyak yang harus saya perbaiki dalam hidup, dan masih banyak beban lainnya yang harus saya tanggung sampai mati.
Awalnya dari sebuah penyimpangan keyakinan dan perbedaan-perbedaan pemikiran pada saat itu, suasana yang tenang pada pagi yang asing menjadi awal dari sebuah kegiatan ini, dimana semua orang pergi menuntut ilmu, pergi untuk bekerja yang hanya sebagai tuntutan hidup, dan pergi untuk selamanya meninggalkan pagi itu. Saya lupa mengingat hari, dimana awal mulanya perubahan diri ini yang saya ingat waktu itu hanya uang dan kesenangan juga kepuasan, perubahan ini datang pada akhir tahun 2005 pada saat saya baru mengenal dunia luar yang sebelumnya terikat dengan tuntutan untuk belajar dasar-dasar manusia berintelegensi, yang hasilnya tidak sama sekali berguna. Hanya bisa menguasai sederetan huruf abjad yang dirangkai menjadi sebuah kalimat untuk memudahkan dalam berkomunikasi, setelah dua belas tahun menuntut ilmu, saya tidak merasa bangga dan tidak merasa pintar dengan semua pelajaran yang saya dapat selama itu, yang paling berkesan pada masa-masa itu Cuma persahabatan dan keinginan untuk memiliki sesuatu, seperti mainan, sekedar senang-senang dengan mainan dan bermain bersama teman di sekolah ataupun di sekitar rumah. Kesenangan itu selalu ada setiap hari yang memang tidak begitu padat aktifitas, saya sadar. Bahwa saya cenderung menutup diri, tidak terlalu bersosial dengan orang lain kecuali dengan teman yang cukup dekat dengan saya, dan itupun hanya sesekali saja tidak selalu setiap hari bisa bertemu dengannya.
Pada masa-masa itu, orang-orang sedang berlomba-lomba meningkatkan popularitasnya, berbagai gaya hidup yang tidak konsisten, krisis penampilan dan persaingan kekuasaan. Bagi saya itu tidak penting sama sekali hanya sedikit keinginan untuk mencobanya, padahal saya mampu seperti itu.
Lalu saya sadar bahwa hal itu sangat penting dan tidak bisa dipungkiri oleh semua orang pada masa itu, ‘masa-masa sekolah’ awalnya saya tidak mengerti tentang trend dan image pada saat itu, dan mulai mengerti setelah mencobanya. Ternyata selama ini saya bodoh tidak tahu perubahan zaman, tidak tahu perkembangan trend dari masa ke masa, yang saya tahu hanya bermain dan membeli mainan layaknya anak kecil yang berumur Sembilan tahun, dan itu sudah dialami selama sepuluh tahun dalam hidup saya.
Saya mulai berpikir ingin menjadi layaknya orang-orang pada masa itu, yang selalu memakai kendaraan bermotor yang bermotif airbrush berbagai gambar dan berpenampilan mengikuti para orang popular pada masa itu, saya sedikit bingung untuk mencoba seperti mereka, karena saya tidak mempunyai motor, bahkan penampilan pun seadanya. Saya Cuma punya sepeda mini, dan sepatu abu-abu yang selalu saya poles dengan semir sepatu berwarna hitam, karena saya tidak suka warna abu-abu. Saya piker saya bodoh saat itu, memikirkan populeritas dan trend yang tidak mengerti maksud dan tujuannya, mereka seperti itu karena ingin tampil beda atau sekedar pamor saja, kepuasan apa saja yang mereka dapat pada saat itu, saya semakin penasaran dan ingin mencobanya. Namun itu hanya sekedar khayalan saja.

mimpi mimpi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar